Jumat, 09 November 2012

Kepemimpinan dan Supervisi


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancangkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia ialah melalui proses pembelajaran di sekolah. Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, guru merupakan komponen sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan terus-menerus. Pembentukan profesi guru dilaksanakan melalui program pendidikan pra-jabatan maupun program dalam jabatan. Tidak semua guru yang dididik di lembaga pendidikan terlatih dengan baik dan kualified. Potensi sumber daya guru itu perlu terus bertumbuh dan berkembang agar dapat melakukan fungsinya secara potensial. Selain itu pengaruh perubahan yang serba cepat mendorong guru-guru untuk terus-menerus belajar menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mobilitas masyarakat.
Masyarakat mempercayai, mengakui dan menyerahkan kepada guru untuk mendidik tunas-tunas muda dan membantu  mengembangkan potensinya secara professional. Kepercayaan, keyakinan, dan penerimaan ini merupakan substansi dari pengakuan masyarakat terhadap profesi guru. Implikasi dari pengakuan tersebut mensyaratkan guru harus memiliki kualitas yang memadai. Tidak hanya pada tataran normatif saja namun mampu mengembangkan kompetensi yang dimiliki, baik kompetensi personal, professional, maupun kemasyarakatan dalam selubung aktualisasi kebijakan pendidikan. Hal tersebut lantaran guru merupakan penentu keberhasilan pendidikan melalui kinerjanya pada tataran institusional dan eksperiensial, sehingga upaya meningkatkan mutu pendidikan harus dimulai dari aspek "guru" dan tenaga kependidikan lainnya yang menyangkut kualitas keprofesionalannya maupun kesejahteraan dalam satu manajemen pendidikan yang professional.
Untuk dapat menjaga keprofesionalan guru maka sangat diperlukan seorang pemimpin yang selalu mengawasi kinerja bawahannya. Melalui kegiatan supervisi itulah hal tersebut dapat di laksanakan.



B.     Rumusan Masalah
            Dalam makalah ini, kami akan membahas permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan kepemimpinan dan supervisi pendidikan, antara lain :
1.      Apa syarat-syarat menjadi seorang pemimpin?
2.      Apa fungsi supervisi pendidikan?
3.      Apa saja jenis-jenis supervisi pendidikan?
4.      Bagaimana teknik supervisi itu?

C.     Tujuan
            Tujuan penulisan makalah ini  yaitu :
1.      Mengetahui pengertian dan syarat menjadi seorang pemimpin.
2.      Mengetahui  fungsi supervisi pendidikan.
3.      Mengetahui jenis dan teknik supervisi pendidikan.
             

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Dasar-dasar Kepemimpinan Pendidikan

1.      Pengertian Kepemimpinan Pendidikan

Kepemimpinan (dalam hal ini kepala sekolah) merupakan suatu kemampuan dan kesiapan seseorang untuk mempengaruhi, membimbing, mengarahkan, dan menggerakkan staf sekolah agar dapat bekerja secara efektif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah ditetapkan. Bahkan secara sederhana dapta disebut sebagai layanan bantuan yang diberikan kepala sekolah terhadap penetapan dan pencapaian tujuan.

Atau dengan kata lain Kepemimpinan adalah pemberian layanan atau bimbingan terhadap staf dalam rangka penetapan dan pencapaian tujuan.

2.      Unsur-unsur Kepemimpinan

Proses kepemimpinan dapat berjalan jika memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:

o  Ada yang memimpin

o  Ada yang dipimpin

o  Ada kegiatan pencapaian tujuan

o  Ada tujuan / target sasaran

Syarat dan Prinsip Proses Kepemimpinan Pendidikan

Ø  Seorang pemimpin harus memiliki kepribadian yanng terpuji antara lain: periang, ramah, bersemangat, pemberani, murah hati, spontan, percaya diri, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi.

Ø  Paham dan menguasai tujuan yang hendak dicapai (termuat dalam RKS) dan mampu mengkomunikasikan kepada bawahan dan stakeholder.

Ø  Berwawasan lebih luas dibidang tugasnya dan bidang-bidang lain yang relevan.

Ø  Bepegang pada prinsip-prinsip umum kependidikan yang meliputi:

§  Konstruktif

§  Kreatif

§  Partisipatif

§  Kooperatif

§  Pendelegasian yang baik/proporsional

 

 

 

3.      Tipe-tipe dasar kepemimpinan

o  Kepemimpinan otoriter : sangat mengandalkan kedudukannya / kekuasaannya sebagai pemimpin

o  Kepemimpinan laizes-faire : pemimpin yang keberadaannya hanya sebagai lambang

o  Kepemimpinan demokratis : mengutamakan kerjasama antara atasan dan bawahan

o  Kepemimpinan pseudo-demokratis : nampak seperti demokratis tetapi semu karena tetap otoriter dan demi kepentingan kelompok tertentu saja

 

    

B.     Pengertian dan Tujuan Supervisi

1.      Pengertian Supervisi

          Menurut P. Adams dan Frank G. Dickey, Supervisi adalah suatu program yang memperbaiki pengajaran. (Supervision is a planned program for the improvement of instruction).

          Dalam Carter Good’s Dictionary of Education, seperti dikutip oleh Oteng Sutisna supervisi didefinisikan sebagai segala sesuatu dari pejabat sekolah yang diangkatyang diarahkan kepada penyediaan kepemimpinan bagi para guru dan tenaga  pendidikan lain dalam perbaikan pengajaran, melihat stimulasi pertunbuhan profesional dan perkembangan dari para guru, seleksi dan revisi tujuan pendidikan, bahan-bahan pengajaran dan metode mengajar dan evaluasi pengajaran.

          Menurut Alexander dan Saylor: “Supervisi adalah suatu program inservice education dan usaha memperkembangkan kelompok (group) secara bersama.

          Menurut Boardmab: “Supervisi adalah suatu usaha menstimulir, mengkoordinir dan membimbing secara kontinu pertumbuhan guru-guru sekolah, baik secara individual maupun secara kolektif, agar lebih mengerti, dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran, sehingga dengan demikian mereka mampu dan lebih cakap berpartisipasi dalam masyarakat demokrasi modern.

          Menurut Mc. Nurney meninjau suervisi sebagai suatu proses penilaian mengatakan: supervisi adalah prosedur memberi arah serta mengadakan penilaian secara kritis terhadap proses pengajaran.

          H. Burton & Leo J. Bruckner: Supervisi adalah suatu teknik pelayanan yang tujuan utamanya mempelajari dan memperbaiki secara bersama-sama faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

          Definisi-definisi tersebut di atas rupa-rupanya terdapat perbedaan satu dengan yang lain, karena titik tolak mereka juga berbeda-beda. Namun demikian, kalau kita teliti kesemuanya tidak meninggalkan unsur-unsur pokok berikut:

ü Tujuan

ü Situasi

ü Supervisor

2.      Tujuan Supervisi

a.       Tujuan Umum

Sebagaimana tercantum dalam pengertiannya, tujuan umum supervisi adalah memberikan bantuan teknis dan bimbingan kepada guru (dan staf sekolah yang lain) agar personil tersebut mampu meningkatkan kualitas kinerjanya, terutama dalam melaksanakan tugas, yaitu melaksanakan proses pembelajaran. Selanjutnya apabila kualitas kinerja guru dan staf sudah meningkat, demikian pula mutu pembelajarannya, maka diharapkan prestasi belajar siswa juga akan meningkat.

b.      Tujuan Khusus

(1)   Meningkatkan kinerja siswa sekolah dalam perannya sebagai peserta didik yang belajar dengan semangat tinggi, agar dapat mencapai prestasi belajar yang optimal

(2)   Meningkatkan mutu kinerja guru sehingga berhasil membantu dan membimbing siswa mencapai prestasi belajar dan pribadi sebagaimana diharapkan.

(3)   Meningkatkan keaktifan kurikulum sehingga berdaya guna dan terlaksana dengan baik di dalam proses pembelajaran disekolah serta mendukung dimilikinya kemampuan pada diri lulusan sesuai dengan tujuan lembaga.

(4)   Meningkatkan keefektifan dan keefisiensian sarana dan prasarana yang ada untuk dikelola dan dimanfaatkan  dengan baik sehingga mampu mengoptimalkan keberhasilan belajar siswa.

(5)   Meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah, khususnya dalam mendukung terciptanya suasana kerja yang optimal, yang selanjutnya siswa dapat mencapai prestsi belajar sebagaimana diharapkan.

(6)   Meningkatkan kualitas situasi umum sekolah sedemikian rupa sehingga tercipta situasi yang tenang serta kondusif bagi kehidupan sekolah pada umumnya, khususnya pada kualitas pembelajaran yang menunjukkan keberhasilan lulusan.

3.      Fungsi Supervisi

a.    Fungsi Meningkatkan Mutu Pembelajaran

     Supervisi yang berfungsi meningkatkan mutu pembelajaran merupakan supervisi dengan ruang lingkup yang sempit, tertuju pada aspek akademik, khususnya yang terjadi di ruang kelas ketika guru sedang memberikan bantuan dan arahan kepada siswa. Perhatian utama supervisor adalah bagaimana dan perilaku siswa yang belajar, dengan bantuan atau tanpa bantuan guru secara langsung. Seberapa tinggi keberhasilan siswa kepada belajar, itulah fokusnya.

b.    Fungsi Memicu Unsur yang Terkait dengan Pembelajaran

     Supervisi yang berfungsi memicu atau penggerak terjadinya perubahan tertuju pada unsur-unsur yang terkait dengan, atau bahkan yang merupakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Oleh karena sifatnya melayani atau mendukung kegiatan pembelajaran, supervisi ini dikenal dengan istlah supervisi administrasi.

c.    Fungsi Membina dan Memimpin

     Fungsi memimpin ini dilakukan oleh pejabat yang diserahi tugas memimpin sekolah, yaitu kepala sekolah, diarahkan kepada guru dan tenaga tatausaha. Jadi sasaran utama supervisi adalah guru, dengan asumsi bahwa jika guru sudah meningkat, akan ada dampaknya bagi siswa.

       

4.      Jenis supervisi pendidikan

        Pada umumnya supervisi pendidikan lebih tertuju kepada supervisi kelas. Supervisi macam ini lebih mengutamakan kegiatan kunjungan kelas untuk mengobservasi proses belajar-mengajar di kelas. Kunjungan ini biasanya didahului dengan konferensi atau wawancara yang pada umumnya membicarakan program semester, satuan pelajaran, kehadiran dan penilaian hasil belajar. Setelah kunjungan kelas lazim juga diadakan paska observasi atau post ovservation  yang terdiri dari konferensi dan wawancara untuk memberikan tanggapan dan kesan, penilaian dan diskusi. Sering pula hasil penilaian terhadap guru dikemukakan dalam kesempatan ini. Supervisi dengan langkah-langkah tersebut digolongkan sebagai jenis supervisi klinikal.

        Kini ada gerakan untuk mengubah supervisi klinikal itu menjadi jenis supervisi umum. Jenis supervisi ini beranggapan, bahwa program administrasi dan supervisi yang mengembangkan materi kurikulum secara intensif yang bertalian pula dengan memerinci silabus dan tujuan instruksional mempunyai pengaruh nyata terhadap perilaku guru di kelas. Dengan pengertian lain, perilaku proses belajar-mengajar di kelas dapat dikendalikan secara tidak langsung bila material kurikulum lebih terperinci, bersturktur bersifat umum ini ialah menilai dan mengarahkan tujuan instruksional yang dirumuskan guru, garis besar pokok bahasan, media pengajaran yang dipergunakan, tugas dan tes yang diberikan, dan jadwal pelajaran yang dipatuhi.

        Supervisi klinikal pendidikan sering juga digolongkan sebagai supervisi langsung, karena kegiatan-kegiatan langsung berhubungan dengan proses belajar-mengajar di kelas. Supervisi umum biasanya disebut tak langsung, karena kegiatan-kegiatannya tidak langsung berhubungan dengan proses belajar di kelas. Supervisi jenis ini lazim juga disebut supervisi luar kelas.

        Supervisi klinikal pendidikan bertujuan untuk secara langsung mengadakan perbaikan terhadap proses belajar mengajar. Selain itu, supervisi klinikal berfungsi melengkapi supervisi di kelas. Supervisi luar kelas bertujuan memperoleh gambaran mengenai proses pendidikan, khususnya pelaksanaan kurikulum di sekolah. Kedua jenis supervisi ini saling bergantung dan saling melengkapi.


5.      Teknik Supervisi
A.    Teknik perseorangan
1.      Mengadakan kunjungan kelas (classroom visitation)
Kunjungan kelas dilakukan oleh pengawas atau kepala sekolah ke sebuah kelas, baik ketika KBM (untuk melihat atau mengamati guru yang sedang mengajar), ataupun ketika kelas sedang kosong atau sedang berisi siswa tetapi guru  sedang tidak mengajar.
2.      Mengadakan observasi kelas (classroom observation)
Kunjungan ini dilakukan oleh supervisor, baik pengawas atau kepala sekolah ke sebuah kelas dengan maksud untuk mencermati situasi atau peristiwa yang sedang berlangsung di kelas yang bersangkutan.
3.      Mengadakan wawancara perseorangan (individual interview)
Wawancara perseorangan dilakukan apabila supervisor berpendapat bahwa dia menghendaki adanya jawaban dari individu tertentu. Hal ini dapat dilakukan jika ada masalah khusus pada individu guru atau staf sekolah yang lain yang penyelesaiannya tidak boleh didengar orang lain, ataupun apabila supervisor ingin mengecek kebenaran yang sudah dikumpulkan dari orang lain.
4.      Mengadakan wawancara kelompok (group interview)
Pada wawancara perseorangan banyak keuntungan yaitu supervisor mendapat informasi murni dari pribadi yang diwawancara. Namun ada beberapa  individu (yang kurang percaya diri) akan lebih tepat digali pendapatnya apabila ada pendamping. Maka teknik wawancara ini dapat dilakukan.
B.     Teknik Kelompok
1.      Mengadakan pertemuan/rapat (meeting)
2.      Mengadakan Diskusi Kelompok (group discussion)
3.      Mengadakan penataran-penataran (in-service training)
4.      Seminar dan lokakarya


BAB III
KESIMPULAN

            Pelaksanaan supervisi di sekolah selalu berkaitan dengan tipe manajemen pendidikan di sekolah. Dalam manajemen pendidikan di sekolah yang demokratis akan mampu menciptakan lingkungan hidup yang demokratis dimana para guru sebagai pribadi-pribadi ikut serta dalam mengatur sekolah dan program pengajaran yang demokratis. Disamping itu penggunaan prosedur yang demokratis akan membuat personel sekolah lebih kooperatif dan memberi semangat korps karena kebanyakan personel sekolah menginginkan untuk ikut dalam perencanaan kebijaksanaan sekolah.
            Oleh karena itu, kepala sekolah sebagai supervisor dan sekaligus pemimpin sekolah perlu menggunakan manajemen pendidikan yang demokratis ini karena dengan demikian kepala sekolah akan banyak dibantu dengan datangnya saran-saran yang berharga dari anak buahnya (para guru) dan kepala sekolah yang bijaksana pasti mampu memilih pikiran-pikiran yang terbaik yang berasal dari guru.




DAFTAR PUSTAKA



B. Suryosubroto, Drs. (2004). Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi, Prof. Dr,. Dasar-dasar Supervisi. Jakarta : Rineka Cipta.

Soemanto, Wasty, Drs,. (1982). Kepemimpinan dalam Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional.

Dr. Supandi dkk.,(1992).  Administrasi Pendidikan. Jakarta: UT .

Rabu, 22 Februari 2012

makalah TEORI KONSTRUKTIVISME piaget

PENDAHULUAN

A.                 Latar Belakang
Teori belajar konstruktivisme mulai berkembang pada abad 19. Teori tersebut merupakan suatu teori yang lebih mementingkan proses dari pada hasil. Proses pembelajaran tidak hanya melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, tetapi lebih banyak melibatkan proses berfikir. Menurut teori ini ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan terpisah-pisah tetapi melalui proses yang berkesinambungan dan menyeluruh.
Melalui proses yang bermakna maka seorang anak akan tumbuh menjadi seorang individu yang lebih sempurna. Sama juga dalam hal belajar, penanaman proses lebih penting bila dibandingkan dengan penekanan hasil. Dengan proses yang bermakna maka akan dapat menghasilkan keluaran yang baik.
Diantara para penemu belajar konstruktivisme yaitu Piaget. Beliau adalah seorang psikolog developmental karena penelitiannya mengenai tahap-tahap perkembangan serta perubahan umum yang mempengaruhi kemampuan belajar individu.
Proses berfikir merupakan aktivitas gradual fungsi intelektual dari konkret ke abstrak. Selain hal tersebut Piaget juga menyelidiki masalah mengenai adaptasi manusia serta perkembangan intelektual atau kognisi berdasarkan dalil bahwa struktur intelektual terbentuk di dalam individu akibat interaksinya dengan lingkungan. Dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai teori-teori dari Piaget yang dapat diterapkan dalam pendidikan.
B.                 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya yang akan dibahas adalah:
1.      Asumsi –asumsi dasar Piaget
2.      Tahap perkembangan Kognitif
3.      Implikasi teori Piaget dalam Pendidikan
4.      Unsur Penting dalam Lingkungan Pembelajaran Konstruktivis

C.                 Tujuan Penulisan
1.      Asumsi –asumsi dasar Piaget
2.      Tahap perkembangan Kognitif
3.      Implikasi teori Piaget dalam Pendidikan
4.      Unsur Penting dalam Lingkungan Pembelajaran Konstruktivis


PEMBAHASAN

Salah satu prinsip psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak begitu saja memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa yang harus aktif membangun pengetahuan dalam pikiran mereka. Tokoh yang berperan pada teori ini adalah Jean Piaget dan Vygotsky. Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari.Secara umum yang disebut konstruktivisme menekankan kontribusi seseorang pembelajar dalam memberikan arti, serta belajar sesuatu melalui aktivitas individu dan sosial. Beberapa pemikir konstruktivis seperti Vigotsky menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam pembentukan pengetahuan (konstruktivisme sosial); sedangkan yang lain seperti Piaget (pakar psikologi dari Swiss) melihat konstruksi individulah yang utama (konstruktivisme individu). Piaget menjelaskan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Piaget yakin bahwa anak-anak menyesuaikan pemikiran mereka untuk menguasai gagasan-gagasan baru, karena informasi tambahan akan menambah pemahaman mereka terhadap dunia. Ia juga menjelaskan bagaimana tiap individu mengembangkan schema, yaitu suatu sistem organisasi aksi atau pola pikir yang membuat kita secara mental mencerminkan "berpikir mengenainya". Dua proses diaplikasikan dalam hal ini yaitu asimilasi dan akomodasi. Melalui asimilasi individu berusaha menggabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan mereka yang sudah ada (schema). Sedangkan akomodasi adalah terjadi ketika individu  menyesuaikan diri dengan informasi baru.
Seseorang melakukan adaptasi dalam situasi yang makin kompleks ini dengan menggunakan schema yang masih bisa dianggap layak (asimilasi) atau dengan melakukan perubahan dan menambahkan pada schema-nya sesuatu yang baru karena memang diperlukan (akomodasi). Misalnya ada seorang anak 7 tahun dihadapkan dengan palu dan paku untuk memasang gambar di dinding. Ia mengetahui dari pengamatan bahwa palu adalah obyek yang harus dipegang dan diayunkan untuk memukul paku. Dengan mengenal kedua benda ini, ia menyesuaikan pemikirannya dengan pemikiran yang sudah ada (asimilasi). Akan tetapi karena palu terlalu berat dan ia mengayunkannya dengan keras maka paku tersebut bengkok, sehingga ia kemudian mengatur tekanan pukulannya. Penyesuaian kemampuan untuk sedikit mengubah konsep disebut akomodasi.
Piaget memakai istilah “scheme” secar interchangeably dengan istilah struktur. Scheme adalah pola tingkah laku yang dapat diulang. Sceme berhubungan dengan :
a.         Reflex-refleks pembawaan missal bernafas, makan, minum.
b.         Scheme mental misalnya scheme of classification, scheme of operation (pola tingkah laku yang masih sukar diamati seperti sikap dan pola tingkah laku yang dapat diamati).
Menurut Piaget, intelegensi itu sendiri terdiri dari tiga aspek, yaitu:
a.          Struktur, disebut dengan scheme.
b.         Isi, disebut dengan content, yaitu pola tingkah laku spesifik ketika individu menghadapi sesuatu masalah.
c.          Fungsi, disebut juga function, yang berhubungan dengan cara seorang mencapai kemajuan intelektual.
Fungsi terdiri dari dua macam fungsi invariant yaitu:
1.    Organisasi; berupa kecakapan seseorang/organism dalam menyusun proses-proses fisik dan psikis dalam bentuk system-sistem yang koheren.
2.    Adaptasi: yaitu adaptasi individu terhadap lingkungan yang terdiri dari 2 macam proses yang saling komplementer yaitu asimilasi dan akomodasi.

Hal yang paling mendasar dari penemuan Piaget ini adalah belajar pada siswa tidak harus terjadi hanya karena seorang guru mengajarkan sesuatu padanya, Piaget percaya bahwa belajar terjadi karena siswa memang mengkonstruksi pengetahuan secara aktif darinya, dan ini diperkuat bila siswa mempunyai kontrol dan pilihan tentang hal yang dipelajari. Pengajaran oleh guru yang mengajak siswa untuk bereksplorasi, melakukan manipulasi, baik dalam bentuk fisik atau secara simbolik, bertanya dan mencari jawaban, membandingkan jawaban dari siswa lain akan lebih membantu siswa dalam belajar dan memahami sesuatu.
Asumsi-asumsi dasar Piaget
Piaget memperkenalkan sejumlah ide dan konsep untuk mendeskripsikan dan menjelaskan perubahan-perubahan dalam pemikiran logis yang diamatinya pada anak-anak dan orang dewasa. Diantaranya:
1.    Anak-anak adalah pembelajar yang aktif dan termotivasi.
Anak-anak adalah subjek yang secara alami memiliki ketertarikan terhadap dunia dan secara aktif mencari informasi yang dapat membantu mereka memahami dunia tersebut. Anak akan terus bereksperimen dengan objek-objek yang mereka jumpai, memanipulasinya dan mengamati dampak dari tindakan mereka.
2.    Anak-anak mengonstruksi pengetahuan mereka berdasarkan pengalaman.
Anak-anak tidak hanya sekedar mengumpulkan hal-hal yang mereka pelajari menjadi suatu koleksi fakta-fakta yang melekat pada diri mereka. Tetapi mereka juaa menggabungkan penglaman-pengalaman mereka menjadi suatu pandangan terintegrasi mengenai cara kerja dunia di sekitar mereka. Piaget mengemukakan bahwa anak-anak mengonstruksi keyakinan dan pemahaman mereka berdasarkan pengalaman yang mereka alami.
3.    Anak-anak belajar melalui dua proses yang saling melengkapi yaitu asimilasi dan akomodasi.
Piaget mengemukakan bahwa pembelajaran dan perkembangan kognitif terjadi sebagai hasi dua proses yang komplementer yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi melibatkan respons terhadap obje atau peristiwa sesuai dengan scema (pengetahuan) yang sudah ada. Ada kalanya anak-anak memodifikasi schema yang sudah ada atau membentuk rancangan yang benar-benar baru sehingga sesuai dengan objek atau peristiwa baru (akomodasi). Anak akan mendapatkan manfaat pengalaman-pengalaman baru jika mereka mampu menghubungkan pengalaman tersebut dengan pengetahuan dan keyakinan yang mereka miliki.
4.    Interaksi anak dengan lingkungan fisik dan social adalah factor yang sangat penting bagi perkembangan kognitif.
Eksperimen yang dilakukan anak secara aktif terhadap dunia fisik merupakan elemen vital bagi pertumbuhan kognitif. Dengan mengeksplorasi dan memanipulasi objek-objek fisik mereka akan mempelajari karakteristik objek-objek tersebut. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang berbasis penemuan (discovery learning) menjadi suatu aspek penting dalam proses belajar mengajar.
5.    Proses ekuilibrasi endorong kemajuan ke arah kemampuan berfikir yang makin kompleks.
Piaget mengemukakan anak-anak seringkali berada dalam kondisi ekuilibrium dimana mereka mampu menafsirkan dan merespon peristiwa baru dengan schema yang sudah ada.
Seiring tumbuh dan berkembang, kadang mereka menjumpai situasi dimana pengetahuan suatu keterampilan mereka tidak memadai. Situasi ini menimbulkan disekuibilirum yaitu sejenis ketidaknyamanan mental yang mendorong anak berusaha memahami hal-ahal yang sedang mereka observasi. Dengan mengubah atau menngorganisasi objek atau schema yang ada, pada akhirnya mereka mampu memahami peristiwa yang membingungkan itu. Proses dari ekuibilirum ke disekuibilirum kembali ke ekuibilirum ini disebut ekuilibrasi.
6.    Sebagai salah satu akibat dari perubahan kematangan otak, anak-anak berfikir dengan cara-cara yang secara kualitatif berbeda pada usia yang berbeda.
Piaget berspekulasi bahwa otak memang berubah secara signifikan dan perubahan tersebut memungkinkan terjadinya proses berfikir yang semakin kompleks.

Pembelajaran Menurut Teori Belajar Konstruktivisme
Menurut teori belajar konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Dengan kata lain, siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.
Sehubungan dengan hal di atas, Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua adalah pentingnya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.
Wheatley (1991: 12) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. Pertama, pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. Kedua, fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak.
Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari pada apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu materi yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut.
Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme, Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran, yaitu
(1) siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki,
(2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti,
(3) strategi siswa lebih bernilai, dan
(4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.
Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme, Tytler (1996: 20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran, sebagai berikut:
(1) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri,
(2) memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif,
(3) memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru,
(4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa,
(5) mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka, dan
(6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Selain itu Slavin menyebutkan strategi-strategi belajar pada teori kontruktivisme adalah top-down processing( siswa belajar dimulai dengan masalah yang kompleks untuk dipecahkan, kemudian menemukan ketrampilan yang dibutuhkan, cooperative learning(strategi yang digunakan untuk proses belajar, agar siswa lebih mudah dalam menghadapi problem yang dihadapi dan generative learning(strategi yang menekankan pada integrasi yang aktif antara materi atau pengetahuan yang baru diperoleh dengan skemata.
Tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa juga disebut tahap perkembagan mental. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan;
(1) perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Maksudnya, setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang sama,
(2) tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan, pengekalan, pengelompokan, pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan
(3)   gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration), proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi).
Tahap-tahap perkembangan kognitif
 Piaget  mengidentifikasi emat factor yang mempengaruhi transisi tahap perkembangan anak, yaitu:
1.      Kematangan
2.      Pengalaman fisik/lingkungan
3.      Transmisi social
4.      Ekuibilirum (self regulation)

Tahap perkembangan kognitif menurut Piaget:
1.      Tahap sensorimotor (kelahiran hingga usia 2 tahun)
Piaget mengemukakan bahwa dalam sebagian besar tahap sensorimotor, anak-anak berfokus pada apa yang mereka lihat dan lakukan saat itu. Skema –skema mereka tersusun berdasarkan perilaku dan persepsi.  Ia juga menyatakan bahwa kemampuan berfikir yang sesungguhnya muncul pada usia dua setengah tahun. Secara spesifik, anak memperolah kemampuan berfikir simbolik (symbolic thought) yaitu kemampuan merepresentasikan dan memikirkan objek-objek dan peristiwa-peristiwa dalam kerangka entitas mental internal atau symbol.
2.      Tahap Praoprasional (usia 2 tahun hingga 6 atau 7 tahun)
Pada masa awal tahap praoperasional konkret, keterampilan bahasa anak akan berkembang pesat dan penguasaan kosakata yang meningkat memungkinkan mereka mengekspersikan dan memikirkan beragam objek dan peristiwa. Bahasa juga menjadi dasar bagi bentuk interkasi social yang baru yaitu komunikasi verbal. Anak mulai timbul pertumbuhan kognitifnya, tetapi masih terbatas pada ha-hal yang dapat dijumpai atau dilihat di dalam lingkungannya saja. Pada saat mendekati akhir tahap praoperaional, anak mulai menunjukkan tanda-tanda awal pemikiran logis yang menyerupai pemikiran orang dewasa tapi belum selogis orang dewasa tapi anak sudah muali mengenal symbol atau nama.


Dalam hubungan ini, Philips (1969) membagi atas:
a.       Concreteness
b.      Irreversibility
c.       Centering (tampak adanya egocentrisme)
d.      States vs transformation dan
e.       Transductive reasoning. 
3.      Tahap Operasional Konkret (usia 6 atau 7 tahun hingga 11 atau 12 tahun)
Saat anak memasuki tahap oprasional konkret, proses berfikir mereka menjadi terorganisasi ke system proses mental yang lebih besar yang memudahkan mereka berfikir lebih logis aripada sebelumnya. Anak telah dapat menetahui symbol-simbol matematis, tetapi belum dapat menghadapi hal-hal abstrak. Kecakapan kognitif anak:
a.       Combinativity classification
b.      Reversibility
c.       Associativity
d.      Identity
e.       Serializing.
Anak mulai kurang egocentrisme-nya dan lebih sosiocentris (anak mulai membentuk peer group).
4.      Tahap operasional Formal (usia 11 atau 12 tahun hingga dewasa)
Anak dan remaja yang berada dalam tahap ini dapat memikirkan dan membayangkan konsep-konsep yang tidak berhubungan dengan realitas konkret. Mereka juga mengenali kesimpulan yang logis sekalipun kesimpulan tersebut berbeda dari kenyataan di dunia sehari-hari. Anak telah mempunyai pemikiran yang abstrak pada bentuk-bentuk lebih kompleks. Flanell (1963) memberikan cirri-ciri berikut:
a.       Pada pemikiran anak remaja adalah hypothetico-deductive.
Remaja dapat membuat hipotesis-hipotesis dari suatu problema dan membuat keputusan terhadap problema itu secara tepat, tetapi anak kecil belum dapat menyimpulkan apakah hipotesisnya diterima atai ditolak.
b.      Periode propositional thinking
Remaja telah dapat memberikan statement atau proposisi berdasar pada data yang konkret. Tetapi kadang-kadangia berhadapan dengan proposisi yang bertentangan dengan fakta.
c.       Periode combinatorial thinking
Bila remaja itu mempertimbangkan tentang pemecahan masalah, ia telah dapat memisahkan factor-faktor yang menyangkut dirinya dan mengombinasi factor-faktor itu.

Implikasi Teori  Piaget
Para pendidik memandang bahwa teori Piaget dapat dipakai sebagai dasar pertimbangan guru di dalam menyusun struktur dan urutan mata pelajaran di dalam kurikulum. Hunt (1964) mempraktekkan di dalam program pendidikan TK yang menekankan ada perkembangan sensori motoris dan praoperasional, Poel (1964) di dalam program pendidikan Science dan Adler (1966) di dalam mengajar berhitung.
Yang penting guru harus mengerti alam pikiran anak dan tradisinya dari tingkat-tingkat perkembangan intelektual tersebut, missal diutarakan Korplus (1964) bahwa anak TK akan lain dengan anak lulusan SD. Hubungan antara tingkat perkembangan konseptual dengan bahan pelajaran yangn kompleks menunjukkan bahwa guru harus memperhatikan apa yang harus diajarkan dan bagaimana mengajarkannya. Situasi belajar yang ideal ialah keserasian antara bahan pengajaran yang kompleks dengan tingkat perkembangan konseptual anak.
Salah satu  yang penting adalah kematangan anak untuk belajar. Gagne memberikan suatu alternative pemecahannya dengan menunjukkan perbedaan antara kematangan perkembangan dengan keterampilan intelektual yang dipelajari dengan sungguh-sungguh. Kalau anak tidak dapat menyelesaikan suatu tugas, mungkin karena anak itu belum memiliki keterampilan subordinat yang berhubungna dengan tugas itu. Anak akan dapat mempelajari tugas apa saja kalau ia sudah memiliki keterampilan intelektual yang menjadi pre-reqiusit.  

Unsur Penting dalam Lingkungan Pembelajaran Konstruktivis
Berdasarkan hasil analisis Akhmad Sudrajat terhadap sejumlah kriteria dan pendapat sejumlah ahli, Widodo, (2004) menyimpulkan tentang lima unsur penting dalam lingkungan pembelajaran yang konstruktivis, yaitu:
1. Memperhatikan dan memanfaatkan pengetahuan awal siswa
Kegiatan pembelajaran ditujukan untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan. Siswa didorong untuk mengkonstruksi pengetahuan baru dengan memanfaatkan pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Oleh karena itu pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan awal siswa dan memanfaatkan teknik-teknik untuk mendorong agar terjadi perubahan konsepsi pada diri siswa.
2. Pengalaman belajar yang autentik dan bermakna
Segala kegiatan yang dilakukan di dalam pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga bermakna bagi siswa. Oleh karena itu minat, sikap, dan kebutuhan belajar siswa benar-benar dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang dan melakukan pembelajaran. Hal ini dapat terlihat dari usaha-usaha untuk mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari, penggunaan sumber daya dari kehidupan sehari-hari, dan juga penerapan konsep.
3. Adanya lingkungan sosial yang kondusif,
Siswa diberi kesempatan untuk bisa berinteraksi secara produktif dengan sesama siswa maupun dengan guru. Selain itu juga ada kesempatan bagi siswa untuk bekerja dalam berbagai konteks sosial.
4. Adanya dorongan agar siswa bisa mandiri
Siswa didorong untuk bisa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Oleh karena itu siswa dilatih dan diberi kesempatan untuk melakukan refleksi dan mengatur kegiatan belajarnya.
5. Adanya usaha untuk mengenalkan siswa tentang dunia ilmiah.
Sains bukan hanya produk (fakta, konsep, prinsip, teori), namun juga mencakup proses dan sikap. Oleh karena itu pembelajaran sains juga harus bisa melatih dan memperkenalkan siswa tentang “kehidupan” ilmuwan.

DAFTAR PUSTAKA

Soemanto, Wasty. 1998. Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta
Wahab, Rochmad. 1999. Perkembangan dan Belajar Peserta Didik. DEPDIKNAS
Dalyono. 2009. Psokologi pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta
Uno, Hamzah. 2010. Orientasi Baru dalam Psokologi Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara
Ormrod, Jeanne. 2008. Edisi Ke 6 Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang. Jakarta: Erlangga